Menelusuri Pringtali

Home / Blog / Menelusuri Pringtali

Pringtali, dusun dimana salah satu kelompok mitra petani rempah Agradaya berada. Sebuah dusun yang terletak di Perbukitan Menoreh dengan segala macam kearifan lokalnya. Secara administratif berada di wilayah Desa Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo. Butuh 2 jam perjalanan (dari kota Yogyakarta) untuk sampai ke dusun ini. Meskipun dengan jalan yang berliku dan naik turun, namun cukup mudah untuk menemukannya. Terletak tepat di bawah kawasan wisata yang sedang berkembang yakni air terjun Kedung Pedut. Sulitnya akses perjalanan menuju ke sana sebanding dengan pemandangan alam yang indah dan keramahan penduduknya. Tebing-tebing nan hijau yang menjulang, beraneka ragam flora, beberapa air terjun kecil di sepanjang perjalanan, serta derasnya aliran sungai Progo sungguh memanjakan mata bagi anda yang membutuhkan relaksasi.  Soal udara? Jangan ditanya, tentu sangat segar dan sejuk bebas polusi. Ketika musim cengkeh datang, anda akan mendapatkan sebuah relaksasi spesial dari alam. Aroma khas bunga cengkeh menguar ke seluruh penjuru desa. Memberikan kenyamanan tersendiri di dusun yang penduduknya sangat ramah ini.

Harumnya bunga cengkeh, pertanda musim kebahagiaan warga. Ya, cengkeh adalah komoditas warga yang masa panennya hanya setahun sekali. Dari cengkeh pula mereka memperoleh pendapatan terbesar karena harga jualnya yang bisa dikatakan tinggi. Berkisar 25-35 ribu/kg untuk komoditas basah, dan 90-120 ribu untuk komoditas kering. Meskipun kala harga tidak bersahabat, para warga dapat menyimpannya dalam kondisi kering dan tahan lama. Sehingga bagi mereka cengkeh adalah tabungan. Dapat dijual saat membutuhkan. Tentu yang bisa menabung cengkeh adalah warga yang memiliki lahan luas.

Lantas dari mana pendapatan mereka setelah masa panen cengkeh usai ataupun harga cengkeh tak kunjung bersahabat? Mayoritas warga di sini adalah pekerja keras. Segala macam tanaman yang dapat tumbuh mereka tanam seperti singkong, talas, jahe, kunyit, temulawak, serai, sunthi, bengle, kencur, kunci, dan jenis rempah lainnya. Singkong dan talas adalah tanaman yang dipanen setahun dua kali, hampir setiap warga memilikinya. Rempah-rempah seperti kunyit, temulawak, dan bengle tetap mereka tanam meskipun ketika panen harga jualnya tak seberapa (berkisar 700-2000), itupun panen setahun sekali.

Karena hasil pertanian tidak menyediakan rupiah setiap hari, menjadi buruh adalah solusi. Sebagian besar kaum ibu mencari nafkah dengan menjadi buruh tani, seperti buruh mencangkul dan menggotong material bangunan. Sedangkan kaum bapak sebagian besar berprofesi sebagai buruh bangunan atau petani gula jawa/semut. Rata-rata upah seorang buruh perempuan adalah 35 ribu/hari, sedangkan untuk buruh bangunan pria adalah 50 ribu/hari. Untuk gula semut, rata-rata warga dapat menghasilkan gula jawa/semut 2 kg dengan harga 15-20 ribu. Dengan rata-rata penghasilan tersebut, mereka dapat menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan sehari-hari ataupun kebutuhan bermasyarakat (yang dapat dikatakan cukup tinggi).

Tak besar memang pendapatan rata-rata penduduknya, namun hal tersebut tak menjadikan mereka meminta-minta. Hidup sederhana dan gotong royong adalah strategi mereka. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari mereka mengandalkan hasil kebun yang ada (kecuali komoditas yang tidak dapat tumbuh seperti beras, bawang merah). Berpakaian seadanya bukanlah masalah. Ketika membangun rumah ataupun memiliki hajatan, warga berbondong-bondong bergotongroyong menyumbang tenaga ataupun barang. Guna  membantu meringankan beban yang ada di pundak sang pemilik hajatan. Persaudaraan yang kuat dan kepedulian antarsesama memang sudah membudaya. Lantas budaya manakah ini? Tentu budaya Indonesia yang harus terus dilestarikan!

Datang ke dusun ini serasa pulang ke rumah sendiri, Ya Indonesia!

 

ditulis oleh: Yuniarti (Community Engagement of Agradaya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.