Es Markisa Kweni- Kaya Vitamin C & Penambah Nafsu Makan

Es Markisa Kweni- Kaya Vitamin C & Penambah Nafsu Makan

Temulawak merupakan salah satu rempah-rempah yang memiliki khasiat untuk meningkatkan nafsu makan. Bagi sebagian ibu-ibu yang memiliki balita atau anak-anak kecil biasanya memiliki perjuangannya sendiri untuk membuat putra dan putri mereka doyan makan. Namun solusinya bukan berarti menyuapi si kecil dengan temulawak secara langsung dong, mengingat rasa dan aromanya tidak cukup ramah bagi anak-anak bahkan dewasa.
Nah salah satunya ibu-ibu bisa membuat menu ajaib ini , sambil menghilangkan dahaga di siang hari yang terik lho. Cocok dinikmati oleh seluruh anggota keluarga, terutama putra-putri anda yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Bahan :
– 5 buah Markisa
– 2 buah mangga kweni
– 100 gram gula
– 200 ml air
– 1/4 sdt bubuk temulawak “AGRA”
– es batu secukupnya

Cara membuatnya:
1. Panaskan air dan gula hingga gula larut
2. Potong markisa dan ambil isinya


3. Potong dadu mangga kweni


4. Lalu, campurkan buah-buahan dengan gula yang sudah larut kedalam 1 tempat


5. Tambahkan bubuk temulawak, dan es batu.


6. Lalu, aduk rata dan siap dinikmati .


.
*Gula bisa diganti dengan madu.

Agradaya dan Tani Jiwo: Kelas Srawung Sehat Mandiri Dari Rumah

Agradaya dan Tani Jiwo: Kelas Srawung Sehat Mandiri Dari Rumah

Dataran tinggi Dieng merupakan sebuah kawasan wisata yang menyimpan banyak sekali peninggalan masa lalu berupa candi-candi serta arca yang masih terus ditemukan hingga masa kini. Terkenal sebagai salah satu tempat untuk menikmati matahari terbit yang paling indah di asia Tenggara, membuat pesona dieng semakin mashyur. Turis lokal maupun internasional selalu datang silih berganti untuk melakukan perjalanan dan menghabiskan waktu di dieng.

Jarak yang ditempuh menuju Dieng dengan menggunakan sepeda motor sekitar 3,5 jam dari kota Jogjakarta ini juga memiliki banyak sekali penginapan. Salah satu penginapan yang cukup mencuri perhatian adalah Tani Jiwo. Sebuah hostel yang berdiri kokoh yang tak jauh dari kompleks Candi Arjuna ini memang termasuk baru, namun desain bangunan serta pelayanan yang sangat asyik dan cocok untuk penginapan bagi solo traveler maupun berkelompok menjadi tambahan tersendiri. Tambah lagi, bangunan 3 lantai ini memiliki resto di lantai paling atas, temu jumpa.

Temu jumpa juga sekaligus menjadi ruang yang sering digunakan oleh kumpulan anak-anak muda dieng untuk membuat kelas bersama. Kelas  ini merupakan sebuah perwujudan semangat anak-anak muda dieng dan sekitarnya untuk terus belajar. Narasumber yang mereka hadirkan juga sangat beragam dan dari bermacam-macam latar belakang. Kali ini, kelas Srawung, begitu biasa mereka menyebutnya, berkolaborasi bersama Agradaya.

Dalam tema untuk memperkenalkan dan mengangkat kesehatan dari rumah, Agradaya bersama temu jumpa membuat kelas pengenalan rempah yang biasa ditemui di dapur serta manfaatnya. Pematerinya adalah seorang apoteker in house Agradaya yang memiliki minat pada dunia jamu serta herbal. Citra Kurnia, juga merupakan co-founder dari jamupedia.id , sebuah movement atau gerakan yang digagas untuk mengedukasi dan membumikan jamu sebagai warisan budaya yang memang telah teruji secara scientific terkait kandungan serta manfaatnya.

Kelas yang diadakan hari jum’at pkl 10.30 WIB tersebut, dihadiri oleh 8 orang peserta yang berasal dari dieng, wonosobo, dan Jogjakarta.

Foto: Tebak Rempah Pembuka Kelas Srawung #5. Memperkenalkan rempah yang sering ditemui di dapur rumah

 Kelas dibuka oleh Shinta, sebagai tuan rumah mewakili Tani Jiwo. Acara dilanjutkan dengan mengajak para partisipan untuk bergabung dengan Kuis Tebak Rempah. Di sini Agradaya menyiapkan beberapa jenis rempah untuk dikenali dan diberi nama. Sesi ini dilakukan sebagai pemanasan dan penyegaran terhadap ingatan peserta kepada rempah-rempah. Setelah semua partisipan mendapat giliran, baru kemudian masuk ke sesi berikutnya bersama pemateri untuk mengidentifikasi reremapahan yang ditebak sekaligus menerima penjelasan terkait manfaat serta kegunaannya.

Terakhir acara ditutup dengan meracik teh rempah oleh partisipan kemudian dinikmati bersama. Terakhir tidak lupa tentu saja acara foto bersama. (SS)

Apa itu Swamedikasi ?

Apa itu Swamedikasi ?

Jika kita hidup dan tinggal di desa atau bersama anggota keluarga kita yang dulunya pernah cukup lama hidup di pedesaan, maka seringkali kita akan menemukan resep-resep tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh orang-orang terdahulu. Ada standar atau tolak ukur yang cukup untuk menilai apakah sakit kita termasuk kategori ringan atau berat. Biasanya di hari pertama dan kedua , kita masih akan melihat penyakit yang kita alami hanya sebagai bentuk reaksi tubuh yang tidak sesuai dengan kapasitas atau kondisi lingkungan tertentu. Misal ketika tiba-tiba kita kehujanan, lalu keesokan harinya kita menderita demam dan flu, kita akan cenderung mengobatinya dengan makan makanan yang lebih bergizi dalam jumlah banyak, minum air hangat, atau rebusan jahe dan istirahat lebih panjang. Tak jarang juga, ketika kita mengalami peradangan pada tenggorokan, ibu atau nenek kita akan menyarankan untuk mengkonsumsi perasan jeruk nipis dan kecap yang diminum dengan takaran satu sendok makan.

Praktik demikian sudah termasuk ke dalam praktik swamedikasi, atau self-medication (pengobatan sendiri). Swamedikasi bisa kita artikan sebagai metode pengobatan secara mandiri. Kita mengidentifikasi, mengenali, dan mengobati diri kita sendiri dengan menggunakan bahan-bahan herbal yang kita temukan di rumah, seperti rempah-rempah, ataupun obat-obat apotek yang dikonsultasikan dengan apoteker yang sedang jaga atau bertugas di apotek tanpa melakukan pengobatan ke dokter dan rumah sakit.

Tidak semua penyakit tentu saja bisa disembuhkan dengan cara swamedikasi. Maka dari itu, individu atau personal sangat perlu untuk belajar mengenali ketahanan tubuh, makanan yang dikonsumsi, serta kecenderungan respon tubuh terhadap suatu kondisi tertentu, misalnya perubahan cuaca atau tempratur suatu daerah atau tempat. Hal ini juga menjadi bentuk tanggung jawab personal kepada dirinya sendiri untuk menjadi sehat dan berkesadaran.

Beberapa jenis penyakit ringan yang bisa disembuhkan dengan swamedikasi diantaranya adalah batuk, pilek, demam, diare, kelelahan, pegal, nyeri, pusing, dan lain-lain. Dengan catatan harus dan perlu diperhatikan waktu atau lamanya penyakit tersebut diderita. Biasanya jika lebih dari 3 hari tanpa perubahan yang signifikan, maka perlu dilakukan konsultasi ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Belajar dari Desa

Belajar dari Desa

“ It takes a village to raise a child” adalah sebuah peribahasa dari Afrika, yang secara sederhana bisa dipahami bahwa, dibutuhkan sebuah komunitas atau lingkungan yang mendukung dan sehat untuk membesarkan seorang anak.

Merujuk pada pemahaman yang disampaikan oleh wikipedia, desa adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia di bawah kecamatan, yang dipimpin oleh Kepala Desa. Sebuah desa merupakan kumpulan dari beberapa unit permukiman kecil.

Sedangkan menurut R. Bintarto, seorang ahli geografi,  desa adalah perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomis politik, kultural setempat dalam hubungan dan pengaruh timbal balik dengan daerah lain. Dalam pemahaman yang lebih spesifik, pengaruh hubungan sosial dan kultural yang saling timbal balik, maka desa memiliki peran besar dalam mempengaruhi karakter dan cara hidup seseorang, baik keluarga, maupun individu.

Lahir dan tumbuh di desa, menjadikan Agradaya dapat dikatakan sebagai “anak desa”. Bermula dari Andhika Mahardika, bapak dari “Agradaya” yang lahir dan besar di desa, melanjutkan sekolah dan pernah berkarir di kota, memiliki misi hidup untuk kembali pulang dan hidup di desa. Kecintaannya pada Indonesia, dunia pertanian, bisnis, dan produk lokal membuat langkahnya untuk hidup di desa semakin yakin dan mantap. Bersama Asri Saraswati, Ibu dari “Agradaya” yang justru lahir, besar, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di kota, membuatnya jengah sampai akhirnya memutuskan untuk pindah dan hidup di desa. Berbekal  rasa ingin tahu yang tinggi, hobi memasak, bercocok tanam, dan mengolah berbagai bahan makanan lokal , pasangan ini kemudian “melahirkan” putera pertama mereka yaitu “Agradaya”. Agradaya sendiri adalah sebuah doa untuk pertanian yang lebih berdaya.

Tahun 2017, Agradaya mendapat tambahan anggota keluarga baru, Bagas,  seorang putra dari ibu dan bapak “Agradaya”. Dalam memulai perjalanan sebagai sebuah keluarga dengan seorang bayi kecil, Asri sangat banyak belajar dan mendapat inspirasi dari kehidupan di desa yang ia jalani. Mulai dari dukungan orang-orang sekitar yang lebih banyak bertemu dengan para ibu-ibu desa, alam serta lingkungan desa yang lebih adem, kualitas udara bersih, banyaknya persawahan, pepohonan, dan hubungaan sosial masyarakat yang sering berkumpul dan bertemu sekadar untuk bertegur sapa.

Keluarga kecil “Agradaya” tumbuh dengan banyak menyerap pemahaman dan prinsip hidup desa yang cukup, sederhana, dan saling gotong royong. Pemanfaatan tanaman serta tumbuhan sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga menjadi semangat hidup yang diterapkan oleh Agradaya.

Dusun Planden, Desa Sendangrejo, Sleman-Yogyakarta  menjadi sebuah tempat dan rumah tumbuh yang dipilih oleh Asri dan Dhika untuk membesarkan dua putera mereka, yakni “Agradaya” dan Bagas.